Dalam sebuah perbedaan
pasti juga ada kasih yang terjalin,namun mungkin ada juga terjadinya perselisihan
diantara perbedaan tersebut. Untuk mewujudkan sebuah kasih, kita dapat
melakukannya dengan mudah,untuk mewujudkan sebuah kasih tidak dibutuhkan suatu
usaha yang besar, namun hanya dengan melayani sesama,menjalin hubungan satu
dengan lainnya diantara adanya perbedaan,dsb.
Apakah kasih
menurut Anda?
Menurut saya sendiri,kasih adalah suatu hubungan yang
terjalin bukan hanya hubungan cinta namun juga hubungan sebagai teman hingga
keluarga,hanya dengan tersenyum atau menyapa satu dengan lainnya menurut saya
itu juga merupakan kasih,karena itulah, untuk mewujudkan sebuah kasih tidak
perlu bersusah payah untuk mewujudkannya. Kasih menurut saya bukan hanya
diwujudkan kepada kita yang memiliki suatu persamaan,maksudnya ialah misalnya kita hanya mewujudkan sebuah kasih
kepada orang atau teman yang memiliki persamaan agama,derajat,status ekonomi
hingga sosial. Namun, kasih juga arus
kita wujudkan kepada orang atau teman yang memiliki perbedaan, dari perbedaan
agama,derajat yang rendah hingga tinggipun,status ekonomi dan sosial yang
berbeda,dll. Seperti judul blog saya kali ini love in contradiction, saya ingin meng-share kan bahwa kita harus
menjalin kasih dengan berbagai perbedaan.
Love in contradiction yang telah saya terapkan yaitu
ketika saya dan teman-teman saya melaksanakan perbuatan kebaikan yaitu
melakukan pelayanan ke Panti Berkebutuhan Khusus. Panti berkebutuhan khusus
tersebut berlatar belakang agama Kristen,sedangkan saya dan teman-teman saya
terdiri dari beberapa perbedaan agama yaitu Katolik dan Islam. Namun saya dan
teman-teman saya, melakukan pelayanan kasih ini dengan tidak melihat latar
belakang dari panti berkebutuhan khusus ini. Saya dan teman-teman saya datang
ketika jam makan malam tiba,ketika itulah saya dan teman-teman saya meminta
kepada pengurus panti untuk memberikan kami suatu “pekerjaan” yang saya dan
teman-teman saya maksud untuk melayani para penghuni panti,apa saja yang pengurus
panti minta, saya dan teman-teman saya senantiasa melakukannya. Saya dan
teman-teman saya walupun diantara kami satu sama lain memiliki perbedaan yaitu
dari sudut agama, tapi kami memiliki tujuan yang sama yaitu ingin melayani
sesama kami manusia yang memiliki kekurangan.
Hal pertama yang saya dan
teman-teman saya lakukan yaitu kita diminta untuk menyuapi penghuni panti yang
tidak bisa makan dengan sendirinya. Ketika itu saya diminta untuk menyuapi
penghuni panti yang bernama Ming-ming. Sebelumnya dipanti tersebut jika ingin
melayani mereka harus dengan sesama jenis,jadi karena saya perempuan maka saya
harus melayani yang perempuan saja. Saya menyuapi seseorang perempuan berumur
30an tahun yang mengidap penyakit autis yang bernama Ming-ming. Sebelumnya
Ming-ming tidak mau menerima suapan nasi dari saya,karena ia belum mengenal
saya,namun akhirnya ia mau menerima suapan nasi dari saya,karena saya lumayan
memaksa ia namun dengan paksaan halus,saya memaksa ia untuk menerima suapan
nasi dari saya dengan memberikan senyuman dan mengatakan ‘ayo,makan’ walaupun
sebenarnya ia tidak terlalu mengatahui apa yang saya katakan.
Saya tetap
memberikan senyum kepada ia agar dia mau menerima suapan nasi dari saya,karena
menurut saya hanya dengan senyumanlah yang dapat membuatnya untuk ‘luluh’
ketika melihat saya,akhirnya dengan banyak senyum yang saya berikan itulah, ia
mau menerima suapan dari saya. Dengan apa yang saya lakukan kepada Ming-ming,
saya berpikir bahwa dengan senyumlah orang dapat melihat bahwa kita memiliki
kasih yang kita berikan kepada orang lain. Dengan senyum yang sederhana saja
yang saya dan kita berikan kepada semua orang dapat mewujudkan kasih yang
sederhana kepada orang lain. Saya yang paling lama menyuapi Ming-ming,karena
Ming-ming memang tidak dapat makan dengan cepat, dengan itu saya tidak dapat
melakukan pelayanan yang lainnya, seperti mencuci piring,menyapu dan mengepel. Namun
hanya dengan melayani Ming-ming saja saya sudah merasa bahagia,saya tidak tahu
mengapa,mungkin karena saya merasa puas , saya bisa melayani Ming-ming dengan
perasaan yang menerima ia apa adanya dengan bahagia. Dengan perasaan yang
terbuka inilah yang dapat mewujudkan kita dalam perasaan kasih. Dalam tiap-tiap
agama pasti telah diajarkan bagaimana cara mewujudkan sebuah kasih, di dalam
agama saya yaitu Katolik saya ingin memberikan kutipan tentang kasih.
1
Korintus 13 : 1-3
“Sekalipun
aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi
jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan
canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan
mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku
memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama
sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang
ada padaku bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak
mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku”
Jadi,kita sebagai umat manusia harus memiliki sebuah kasih
yang dapat kita wujudkan kepada semua orang tanpa melihat adanya perbedaan dari
sudut pandang agama,derajat dan status. Karena kehidupan itu akan terasa hampa
jika kita tidak dapat mewujudkan sebuah kasih.
From me, WITH SMILE YOU CAN EXPRESS YOUR LOVE!



bagus" dengan adanya artikel ini kita lebih mengerti betapa pentingnya Kasih didalam kehidupan kita
BalasHapusArtikelnya ngena banget rin :3, dengan gitu aku sndr bisa ngerasain perlunya kita saling tlng menolong antar umat beragama dengan kasih Tuhan.. 😃 yey semangat rin.. 😍😘
BalasHapusNice artikel ririn.
BalasHapus